GPKdI Tahuna Minggu, 27 September 2026
I. Pembukaan dan Pelayanan Pujian (Praise & Worship)
Ibadah Raya yang berlangsung pada hari Minggu, 27 September 2026, diawali dengan hadirat Tuhan yang penuh sukacita. Sesi pujian dan penyembahan dipimpin oleh Bpk. Stevenly Takapaha selaku Worship Leader, yang membuka ibadah dalam doa pembuka dan menuntun jemaat masuk ke dalam takhta hadirat Allah.
Pelayanan pujian ini didukung penuh oleh tim pemusik dan tim singers yang berkomitmen:
- Tim Singers: Ibu Mariana, Ibu Yessy Parera, dan Sdr. Jonathan Takapaha.
- Tim Musik: Bpk. Alfrits Sulungunaung (Keyboard), Sdr. Andri (Bas), Sdr. Ryan Takalelumang (Gitar Melodi), dan Bpk. Donal Kansil (Drum).
Sebelum kebenaran Firman Allah ditaburkan, Ibu Mariana Tandi memimpin jemaat dalam doa permohonan agar Roh Kudus membuka hati dan pikiran setiap pendengar.
Khotbah pada Ibadah Raya ini disampaikan oleh Pdt. Wisye Wuwungan dengan judul: "Banyak yang Memiliki Roh Kudus Namun Tidak Mempunyai Kuasa".
Ringkasan Khotbah:
Berpatokan pada ayat pokok di Kisah Para Rasul 1:8, Pdt. Wisye Wuwungan menegaskan bahwa Tuhan telah memberikan Roh Kudus sebagai Penolong (Yohanes 14:16) dan membaptis orang percaya dengan Roh Kudus (Markus 1:8). Sesuai dengan 1 Korintus 3:16, tubuh kita adalah bait Allah. Mengingat hal itu, sebuah pertanyaan reflektif diajukan kepada seluruh jemaat: "Sudahkah Anda menjadi saksi Tuhan yang berdampak, dimulai dari lingkungan keluarga Anda sendiri?"
Berpatokan pada ayat pokok di Kisah Para Rasul 1:8, Pdt. Wisye Wuwungan menegaskan bahwa Tuhan telah memberikan Roh Kudus sebagai Penolong (Yohanes 14:16) dan membaptis orang percaya dengan Roh Kudus (Markus 1:8). Sesuai dengan 1 Korintus 3:16, tubuh kita adalah bait Allah. Mengingat hal itu, sebuah pertanyaan reflektif diajukan kepada seluruh jemaat: "Sudahkah Anda menjadi saksi Tuhan yang berdampak, dimulai dari lingkungan keluarga Anda sendiri?"
Lebih lanjut, hamba-Nya menguraikan 4 penghalang utama mengapa seseorang yang sudah penuh dengan Roh Kudus (bahkan sudah berbahasa roh) namun hidupnya tidak memancarkan kuasa rohani:
- Kurangnya Penyerahan Diri kepada Tuhan
(Referensi Ayat: Roma 1:21-22, Titus 1:16, Yohanes 3:34-36, Matius 16:24)
Banyak orang mengaku mengenal Allah, namun perbuatannya menyangkal Dia karena enggan memikul salib dan menyangkal diri. - Tidak Memahami Identitas Diri sebagai Anak Tuhan
(Referensi Ayat: Hosea 4:7, Roma 8:16-17, 1 Petrus 2:12, 15-16)
Ketidakpahaman akan identitas membuat jemaat mudah jatuh. Sebagai anak-anak Allah, kita dituntut untuk hidup dalam pertobatan setiap hari dan menjaga kelakuan yang baik di tengah dunia. - Terputus Hubungan dengan Firman Allah
(Referensi Ayat: Amos 8:11-13, Yohanes 14:23-26, Markus 16:17-18, Mazmur 34:9-10)
Disampaikan sebuah analogi rohani: Roh Kudus adalah Kereta Api, sedangkan Firman Allah adalah Relnya. Kereta tidak akan bisa berjalan tanpa rel. Mengabaikan Firman menyebabkan kelaparan rohani. Sebaliknya, orang yang takut akan Tuhan dan memegang teguh Firman-Nya tidak akan kekurangan sesuatu yang baik. - Mengabaikan Kehidupan Doa
(Referensi Ayat: Amsal 28:9, Amsal 1:24-28, Mazmur 32:6, 1 Tesalonika 5:17)
Doa adalah napas hidup orang percaya. Mengabaikan doa berarti memutuskan hubungan komunikasi dengan Tuhan, yang berakibat pada hilangnya kepekaan rohani saat berseru kepada-Nya.
III. Respons Jemaat dan Persembahan
Merespons kebenaran Firman Tuhan, jemaat memberikan persembahan syukur dengan penuh sukacita. Sesi persembahan diiringi oleh lagu penutup "Jangan Lelah Bekerja di Ladang Tuhan" yang dipimpin oleh Worship Leader beserta tim singers.
IV. Penutup dan Berkat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar