Ibadah raya GPKdI Tahuna Minggu 4 Oktober 2026


Ibadah berjalan dengan penuh khidmat dan sukacita kudus, dipimpin serta dilayani oleh para pelayan Tuhan yang berkomitmen:

  • Pemimpin Pujian (Worship Leader): Sdr. Erwin Rorong
  • Tim Pujian (Singer/Backing Vocal): Sdr. Jonathan Takapaha, Ibu. Yessy Parera, dan Sdr. Satria Sulingkendage
  • Tim Musik (Musicians):
    • Keyboard: Bpk. Alfrits Sulungunaung
    • Bass: Sdr. Andri
    • Melodi/Gitar: Sdr. Ryan Takalelumang
    • Drum: Bpk. Donal Kansil
PELAYANAN FIRMAN TUHAN
  • Pengkhotbah: Pdt. Hadi Rustiawan, S.Th. (Gembala GPKdI Jemaat Tahuna)
  • Judul Khotbah: Mengapa Allah Mengizinkan Hajaran?
  • Ayat Pokok: Ibrani 12:6-10
"Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak..." 

Ayat ini menegaskan bahwa didikan dan ganjaran dari Allah bukanlah tanda murka yang membinasakan, melainkan bukti otentik dari kasih Bapa. Hajaran tersebut membedakan status kita sebagai anak sah yang dikasihi, bukan anak gampang. Melalui ketundukan pada hajaran-Nya, kita dibawa pada ketaatan yang mendatangkan kehidupan dan bagian dalam kekudusan Allah.
POIN-POIN PENTING KHOTBAH
1. Hajaran Tuhan Bersifat Mendisiplinkan, Mendidik, dan Mencegah Keangkuhan
Hajaran yang diizinkan Tuhan dalam hidup kita memiliki maksud rohani yang mendalam, di antaranya:
  • Mendisiplinkan karena Kasih: Berdasarkan Mazmur 94:12 dan Amsal 3:11, Tuhan mengajar kita demi kebaikan kita sendiri. Hajaran adalah cara Allah memastikan umat-Nya tidak kehilangan warisan kehidupan rohani. Ini adalah bentuk intervensi kasih Allah agar kita tetap berada di jalur yang benar.
  • Kesadaran akan Dosa dan Pemulihan: Kisah Raja Daud dalam 2 Samuel 12:9-13 menjadi contoh nyata bagaimana Allah menghajar untuk membawa pertobatan. Ketika kita menyembunyikan pelanggaran, batin kita akan tertekan (Mazmur 32:3-5). Oleh karena itu, kita diundang untuk bersikap jujur di hadapan Allah agar pemulihan sejati terjadi.
  • Proses Edukasi Rohani: Pemazmur mengakui dalam Mazmur 119:67, 71 bahwa penderitaan membawa berkat didikan sehingga kita belajar memegang ketetapan Allah.
  • Ujian Iman yang Berdampak nyata: Seperti ujian Abraham dalam Kejadian 22:7-13, Allah selalu menyediakan jalan keluar (Jehovah Jireh). Kesetiaan ini membuktikan bahwa iman rohani harus diselaraskan dengan tindakan nyata yang taat (Yakobus 2:21-23).
  • Menjaga Kerendahan Hati: Merujuk pada pengalaman Rasul Paulus dalam 2 Korintus 12:7-10, terkadang Allah mengizinkan "duri dalam daging" agar kita tidak menjadi angkuh atau sombong, melainkan senantiasa bersandar penuh pada kasih karunia-Nya.
2. Tujuan Penderitaan: Proses Pembentukan Menuju Keindahan, Kedewasaan, dan Kehidupan yang Berbuah
Tuhan tidak pernah mengizinkan penderitaan tanpa sebuah tujuan akhir yang mulia. Segala sesuatu di dalam hidup orang percaya harus melewati proses:
  • Dibentuk oleh Sang Penjunan: Melalui analogi tanah liat dalam Yeremia 18:1-6, kita diingatkan bahwa jika kita tidak rela dibentuk oleh tangan Tuhan, kehidupan kita tidak akan memiliki nilai atau faedah. Proses penghancuran dan pembentukan ulang oleh Sang Penjunan bertujuan untuk menjadikan kita "bejana yang indah" dan berharga di mata-Nya.
  • Pertumbuhan dan Kedewasaan: Proses pembentukan dan didikan ini pada akhirnya dirancang agar kapasitas rohani kita bertumbuh, menghasilkan buah-buah kebenaran, serta mendewasakan iman kita di tengah tantangan zaman.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan lainnya