Ibadah Syukur HUT ke-37 GPKdI Tahuna 19 September 2026 | dilaksanakan 20 September 2026

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-37 Gereja Pantekosta Kudus di Indonesia (GPKdI) Tahuna
Lokasi: Pantai Ria Kolongan Beha

I. PENGANTAR DAN PELAKSANAAN ELEMEN ACARA
Dalam rangka mengucap syukur atas penyertaan Tuhan yang sempurna, seluruh komponen jemaat telah melaksanakan Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-37 GPKdI Tahuna. Acara ucapan syukur ini diselenggarakan dengan penuh sukacita di area terbuka, yakni di Pantai Ria Kolongan Beha. Selain ibadah agung, perayaan ini juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan lomba antarjemaat guna mempererat tali kasih dan membangun semangat kekeluargaan yang solid di dalam Tuhan.
II. PEMBERITAAN FIRMAN TUHAN
Ibadah syukur HUT ke-37 ini dilayani oleh Pdt. Philipus Maadara, S.Th., yang menyampaikan pesan kebenaran Firman Tuhan dengan merujuk pada Ayat Pokok di kitab Ibrani 12:26-29:
"Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: 'Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.' Ungkapan 'Satu kali lagi' menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan."
Melalui perenungan ini, hamba-Nya menjabarkan poin-poin khotbah yang sangat mendalam dan meneguhkan sebagai berikut:
  1. Dunia dalam Goncangan dan Kepastian Janji Tuhan
    • Tuhan menegaskan kembali nubuatan-Nya bahwa Dia akan menggoncangkan langit dan bumi (Hagai 2:7). Goncangan akhir zaman ini memperlihatkan bahwa dunia lahiriah bersifat sementara dan akan berlalu, namun Kerajaan Allah yang kita terima adalah kerajaan yang tidak tergoncangkan.
    • Setiap teguran yang diizinkan-Nya terjadi merupakan bukti nyata kasih Kristus kepada jemaat, agar kita berbalik kepada-Nya (Wahyu 3:19). Janji akan kedatangan Tuhan kembali bukanlah sesuatu yang mustahil atau lambat terjadi, melainkan sebuah kepastian yang mutlak.
  2. Peringatan Terhadap Kemunduran Rohani
    • Jemaat diingatkan untuk waspada di tengah situasi akhir zaman. Sesuai dengan Matius 24:12, kasih kebanyakan orang mulai dingin karena makin bertambahnya kedurhakaan. Oleh sebab itu, setiap pribadi harus hidup bersungguh-sungguh di hadapan Tuhan dan melatih diri untuk senantiasa takut akan Tuhan.
    • Dunia ini sedang bergerak menuju kebinasaan. Firman Tuhan memberikan peringatan keras bahwa ada batas waktu rahmat (dispensasi). Suatu hari nanti, "pintu anugerah" akan ditutup secara permanen.
  3. Panggilan untuk Bertobat dan Mengejar Kekudusan
    • Berdasarkan Zefanya 2:1-3, jemaat diajak untuk sungguh-sungguh mencari Tuhan, keadilan, dan kerendahan hati sebelum murka-Nya mendatangi bumi, agar kita memperoleh perlindungan.
    • Memasuki usia pelayanan yang ke-37 tahun, GPKdI Tahuna secara khusus ditantang agar pelita rohani setiap jemaat harus tetap menyala. Ingatlah bahwa apabila Tuhan sendiri yang menutup pintu, tidak ada satu pun kekuatan manusia yang dapat membukanya kembali. Selagi pintu anugerah masih terbuka lebar, jemaat diajak untuk bertobat dari segala kedagingan, termasuk seruan pertobatan bagi mereka yang masih terikat oleh kebiasaan merokok.
    • Alkitab mencatat dalam 2 Petrus 3:9-13 bahwa Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri secara tiba-tiba. Karena itu, umat tidak boleh mengasihi dunia dan segala keinginannya (1 Yohanes 2:15-16), melainkan harus mengejar kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibrani 12:14).
  4. Melakukan Kehendak Allah dengan Hati yang Benar
    • Melalui Matius 7:21, diingatkan agar kita tidak menjadi Kristen yang konyol—hanya berseru "Tuhan, Tuhan" tetapi tidak melakukan kehendak Bapa. Terlepas dari keterbatasan pemahaman kita, kita harus tunduk penuh pada otoritas-Nya karena pembelaan Tuhan nyata bagi orang benar (Roma 13:11-14). Kita harus belajar mempresentasikan diri kita sebagai pribadi yang benar dan berkenan di hadapan Allah yang Maha Kudus.
    • Teladan ketundukan ini harus didasarkan pada pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5-11) yang telah menyediakan tempat tinggal surgawi bagi kita (Yohanes 14:1-2).
  5. Menjauhkan Sungut-Sungut dan Menjadikan Ibadah sebagai Kesukaan
    • Hamba-Nya memberikan peringatan tegas terhadap bahaya persungutan. Sejarah mencatat bahwa dari seluruh umat Israel yang keluar dari Mesir, hanya Yosua dan Kaleb beserta generasi yang lahir di padang gurun yang berhasil masuk ke Tanah Perjanjian; mereka yang suka bersungut-sungut mati di perjalanan. Oleh sebab itu, jauhkanlah persungutan dan belajarlah mengucap syukur dalam segala hal.
    • Sesuai dengan Mazmur 122:1, ibadah harus ditempatkan sebagai sebuah kesukaan dan kerinduan yang mendalam, bukan sebuah keterpaksaan atau rutinitas belaka. Ibadah adalah sebuah keharusan bagi orang percaya yang menghormati penciptanya.
III. KESIMPULAN KHOTBAH
Melalui pesan HUT ke-37 ini, ditarik tiga kesimpulan inti bagi jemaat GPKdI Tahuna:
  1. Dunia yang kita diami saat ini penuh dengan goncangan dan sedang menuju kebinasaan, tetapi Allah telah menjamin dan menjanjikan surga yang kekal bagi kita.
  2. Carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hargailah pengorbanan Kristus di atas kayu salib dengan hidup yang bertanggung jawab.
  3. Belajarlah untuk terus mengucap syukur dalam segala situasi dan beribadah kepada Tuhan dengan rasa hormat serta takut akan Dia.
IV. KEGIATAN KEBERSAMAAN (FELLOWSHIP)
Setelah ibadah agung dan perenungan Firman Tuhan selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan kegiatan berbagai lomba. Momentum ini disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh seluruh jemaat. Selain membakar semangat kompetisi yang sehat, kegiatan ini sukses menciptakan atmosfer kebersamaan, keceriaan, dan mempererat ikatan kekeluargaan di antara sesama jemaat GPKdI Tahuna.


KOLEKSI FOTO LIHAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan lainnya